Thursday, January 14, 2010

Sirah sahabat:SA’ID BIN ‘AMIR AL JUMAHY part 2

Tidak lama sesudah itu, Sa id menyusul kaum muslimin hijrah ke Madinah. Di sana dia senantisasa mendampingi Nabi s.a.w. Dia ikut berperang bersama beliau, mula mula dalam peperangan Khaibar. Kemudian dia selalu turut berperang dalam setiap peperangan berikutnya.

Setelah Nabi saw. berpulang ke rahmatullah, Sa’id tetap menjadi pembela setia Khalifah Abu Bakar dan ‘Umar. Dia menjadi teladan satu-satuya bagi orang orang mu’min yang membeli kehidupan akhirat dengan kehidupan dunia. Dia lebih mengutamakan keridhaan Allah dan pahala daripada-Nya di atas segala keinginan hawa nafsu dan kehendak jasad.

Kedua Khalifah Rasulullah, Abu Bakar dan ‘Umar bin Khaththab, mengerti bahwa ucapan-ucapan Sa’id sangat berbobot, dan taqwanya sangat tinggi. Karena itu keduanya tidak keberatan mendengar dan melaksanakan nasihat-nasihat Sa ‘id.

Pada sutu hari di awal pemerintahan Khalifah ‘Umar bin Khaththab, Sa’id datang kepadanya memberi nasihat.

Kata Sa’id, “Ya ‘Umar! Takutlah kepada Allah dalam memerintah manusia. Jangan takut kepada manusia dalam menjalankan agama Allah! Jangan berkata berbeda dengan perbuatan. Karena sebaik-baik perkataan ialah yang dibuktikan dengan perbuatan.

Hai Umar! Tujukanlah seluruh perhatian Anda kepada urusan kaum muslimin baik yang jauh maupun yang dekat. Berikan kepada mereka apa yang Anda dan keluarga sukai. Jauhkan dari mereka apa-apa yang Anda dan ke luarga Anda tidak sukai. Arahkan semua karunia Allah kepada yang baik. Jangan hiraukan cacian orang-orang yang suka mencaci.”

“Siapakah yang sanggup melaksanakan semua itu, hai Sa’id?” tanya Khalifah ‘Umar.

“Tentu orang seperti Anda! Bukankah Anda telah dipercayai Allah memerintah ummat Muhammad ini? Bukankah antara Anda dengan Allah tidak ada lagi suatu penghalang?” jawab Sa’id meyakinkan.

Pada suatu ketika Khalifah ‘Umar memanggil Sa’id untuk diserahi suatu jabatan dalam pemerintahan.

“Hai Sa’id! Engkau kami angkat menjadi Gubernur di Himsh!” kata Khalifah Umar.

“Wahai ‘Umar! Saya memohon kepada Allah semoga Anda tidak mendorong saya condong kepada dunia,” kata Sa’id.

“Celaka Engkau!” balas ‘Umar marah. “Engkau pikulkan beban pemerintahn ini di pundakku, tetapi kemudian Engkau menghindar dan membiarkanku repot sendiri.”

“Demi Allah! Saya tidak akan membiarkan Anda,” jawab Sa’id.

Kemudjan Khalifah ‘Umar melantik Sa ‘Id menjadi Gubernur di Himsh.

Sesudah pelantikan, Khalifah ‘Umar bertanya kepada Sa’id, “Berapa gaji yang Engkau inginkan?”

“Apa yang harus saya perbuat dengan gaji itu, ya Amirul Mu’minin?” jawab Sa’id balik bertanya. “Bukankah penghasilan saya dan Baitul Mal sudah cukup?”

Tidak berapa lama setelah Sa ‘id memerintah di Himsh, sebuah delegasi datang menghadap Khalifah ‘Umar di Madinah. Delegasi itu terdiri dari penduduk Hims yang di tugasi Khalifah mengamat-amati jalannya pemerintahan di Himsh.

Dalam pertemuan dengan delegasi tersebut, Khalifah ‘Umar meminta daftar fakir rniskin Himsh untuk diberikan santunan. Delegasi mengajukan daftar yang diminta Khalifah. Di dalam daftar tersebut terdapat nama-nama si Fulan, dan nama Sa’id bin ‘Amir Al Jumahy.

Ketika Khalifah meneliti daftar tersebut, beliau menemukan nama Sa’id bin ‘Amir Al Jumahy. Lalu beliau bertanya “Siapa Sa ‘id bin ‘Amir yang kalian cantumkan ini?”

“Gubernur kami! “jawab mereka.

“Betulkah Gubernur kalian miskin?” tanya khalifah heran.

“Sungguh, ya Amiral Mu’minin! Demi Allah! Sering kali di rumahnya tidak kelihatan tanda-tanda api menyala (tidak memasak),”jawab mereka meyakinkan.

Mendengar perkataan itu, Khalifah ‘Umar menangis, sehingga air mata beliau meleleh membasahi jenggotnya. Kemudian beliau mengambil sebuah pundi-pundi berisi uang seribu dinar.

“Kembalilah kalian ke Himsh. Sampaikan salamku kepada Gubernur Sa’id bin ‘Amir. Dan uang ini saya kirim kan untuk beliau, guna meringankan kesulitan-kesulitan rumah tangganya” ucap ‘Umar sedih.

Setibanya di Himsh, delegasi itu segera menghadap Gubernur Sa’id, rnenyampaikan salam dan uang kiriman Khalifah untuk beliau Setelah Gubernur Sa ‘id melihat pundi-pundi berisi uang dinar, pundi-pundi itu dijauhkannya dari sisinya seraya berucap, ‘inna lilahi wa inna ilaihi raji’un. (Kita milik Allah, pasti kembali kepada Allah).”

Mendengar ucapannya itu, seolah-olah suatu mara bahaya sedang menimpanya. Karena itu isterinya segera menghampiri seraya bertanya, “Apa yang terjadi, hai ‘Sa ‘Id? Meninggalkah Amirul Mu ‘minin?”

“Bahkan lebih besar dan itu!” jawab Sa’id sedih. “Apakah tentara muslimin kalah berperang?” tanya Isterinya pula.

“Jauh lebih besar dri itu!” jawab Sa’id tetap sedih. ‘Apa pulakah gerangan yang Iebih dari itu?” tanya isterinya tak sabar.

‘Dunia telah datang untuk merusak akhiratku. Bencana telah rnenyusup ke rumah tangga kita,’ jawab Sa’id mantap.

“Bebaskan dirimu daripadanya! “ kata isteri Sa’id memberi semangat, tanpa mengetahui perihal adanya pundi pundi uang yang dikirimkan Khalifah ‘Umar untuk pri badi suarninya.

“Maukah Engkau menolongku berbuat demikian?” tanya Sa ‘id.

‘Tentu...;! “jawab isterinya bersemangat.

Maka Sa’id mengambil pundi-pundi uang itu, lalu disuruhnya isterinya membagi-bagi kepada fakir miskin.

Tidak berapa lama kemudian, Khalifah ‘Umar berkunjung ke Syria, mengininspeksi pemerintahan di sana. Dalam kunjungannya itu beliau. menyempatkan diri singgah di Himsh Kota Himsh pada masa itu dinamai orang pula “Kuwaifah (Kufah kedil)”, karena rakyat nya sering melapor kepada pemerintah pusat dengan ke1emahan-kelemahan Gubernur rnereka, persis seperti kelakuan masyarakat Kufah.

Tatkala Khalifah singgah di sana, rakyat mengeluelukan beliau, mengucapkan Selamat Datang.

Khalifah bertanya kepada rakyat, “Bagaimana penilaian Saudara-Saudara terhadap kebijakan Gubernur

“Ada empat macam kelemahan yang hendak kami laporkan kepada Khalifah,” jawab rakyat.

“Saya akan pertemukan kalian dengan Gubernur kalian,” jawab Khalifah ‘Umar sambil mendo’a: “Semoga sangka baik saya selama ini kepada Sa’id bin ‘Amir tidak salah.”

Maka tatkala sernua pihak—yaitu Gubernur dan masyarakat—telah lengkap berada di hadapan Khalifah, beliau bertanya kepada rakyat, “Bagaimana laporan sau dara-saudara tentang kebijakan Gubernur Saudara-sau dara?”

Pertanyaan Khalifah dijawab oleh seorang Juru Bicara.

Pertama: Gubernur selalu tiba di tempat tugas setelah matahari tinggi.

“Bagaimana tanggapan Anda mengenai lapor’an rakyat Anda itu, hai Sa ‘id?” tanya Khalifah.

Gubernur Sa’id bin ‘Amir Al Jumahy diam sejenak. Kemudian dia berkata: “Sesungguhnya saya keberatan menanggapinya. Tetapi apa boleh buat.. Keluarga saya ti dak mempunyai pembantu. Karena itu tiap pagi saya terpaksa turun tangan membuat adonan roti lebih dahulu untuk mereka. Sesudah adonan itu asam (siap untuk dimasak), barulah saya buat roti. Kemudian saya berwudhu’. Sesudah itu barulah saya berangkat ke tempat tugas untuk rnelayani masyarakat.”

“Apa lagi laporan Saudara-saudara?” tanya Khalifah kepada hadirin.

Kedua, Gubernur tidak bersedia melayani kami pada malam hari.”

“Bagaimana pula tanggapan Anda mengenai itu, hai Sa’id?” tanya khalifah.

“ Ini sesungguhnya lebih berat bagi saya menanggapinya, terutama di hadapan umum seperti ini,” kata Sa ‘id. “Saya telah membagi waktu saya, siang hari untuk rnela yani masyarakat, malam hari untuk bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah,” lanjut Sa ‘id

“Apa lagi,” tanya Khalifah kepada hadirin.

Ketiga: Gubernur tidak masuk kantor sehari penuh dalam sebulan.

“Bagaimana pula tanggapan Anda, hai Sa’id?” tanya Khalifah ‘Umar.

“Sebagaimana telah saya terangkan tadi, saya tidak mempunyai pembantu rumah tangga. Di samping itu saya hanya memiliki sepasang pakaian yang melekat di badan ku ini. Saya mencucinya sekali sebulan. Bila saya mencucinya, saya terpaksa menunggu kering lebih dahulu. Sesudah itu barulah saya dapat keluar melayani masyarakat,” ucap Said.

‘Nah, apa lagi laporan selanjutnya?” tanya Khalifah.

Keempai: Sewaktu-waktu Gubernur menutup diri untuk bicara. Pada saat-saat seperti itu, biasanya beliau pergi meninggalkan majlis.”

“Silakan menanggapi, hai Gubernur Said!” kata Khali fah ‘Umar.

“Ketika saya masih musyrik dulu, saya pernah menyaksikan almarhum Khubaib bin ‘Ady dihukum mati oleh kaum Quraisy kafir. Saya menyaksikan mereka menyayat-nyayat tubuh Khubaib berkeping-keping. Pada waktu itu mereka bertanya mengejek Khubaib, “Sukakah engkau si Muhammad menggantikan engkau, kemudian engkau kami bebaskan?”

Ejekan mereka itu dijawab oleh Khubaib, “Saya tidak ingin bersenang-senang dengan isteri dan anak-anak saya, sementara Nabi Muhammad tertusuk duri ...“

‘Demi Allah...!” kata Sa’id. “Jika saya teringat akan peristiwa , di waktu mana saya membiarkan Khubaib tanpa membelanya sedikit jua pun, maka saya merasa, bahwa dosaku tidak akan diampuni Allah swt.”

Segala puji bagi Allah yang tidak mengecewakanku,” kata Khalifah ‘U mar mengkahiri dialog itu.

Sekembalinya ke Madinah, Khalifah ‘Umar mengirimi Gubernur Sa’id seribu dinar untuk memenuhi kebutuhannya.

Melihat jumlah uang sebanyak itu, isterinya berkata kepada Sa’jd, “Segala puii bagi Allah yang mencukupi kita berkat pengabdianmu. Saya ingin uang ini kita per gunakan untuk membeli bahan pangan dan kelengkapan kelengkapan lain-lain. Dan saya ingin pula menggaji seorang pembantu rumah tangga untuk kita.”

“Adakah usul yang lebih baik dan itu?” tanya Sa’id kepada isterinya.

“Apa pulakah yang lebih baik dari itu? “ jawab isterinya balik bertanya.

“Kita bagi-bagikan saja uang ini kepada rakyat yang membutuhkannya. Itulah yang lebih baik bagj kita,” jawab Sa’id.

“Mengapa....?” tanya isterinya.

‘Dengan begitu berarti kita mendepositokan uang ini kepada Allah. Itulah cara yang lebih baik,” kata Said.

“Baiklah kalau begitu,” kata isterinya. “Semoga kita dibalasi Allah dengan balasan yang paling baik.”

Sebelum mereka meninggalkan majlis, uang itu dimasukkan Sa ‘Id ke dalam beberapa pundi, lalu diperintah kannya kepada salah seorang keluarganya:

‘Pundi ini berikan kepada janda si Fulan. Pundi ini kepada anak yatim Si Fulan. ini kepada si Fulan yang miskin... dan seterusnya.”

Semoga Allah swt. meridhai Sa’id bin ‘Amir Al Jumahy. Dja telah membeli akhirat dengan menghindari godaan kemewahan dunia, dan mengutamakan keridhaan Allah serta pahala yang berlipat ganda di akhirat, lebih dan segala-galanya. Amin!!!


Sirah sahabat: SA’ID BIN ‘AMIR AL JUMAHY part 1


“Dia telah membeli akhirat dengan dunia, dan mengutamakan keridhaan Allah dan Rasul atas segala-galanya.” (Mu’arrikhin).

SA’ID BIN ‘AMIR AL JUMAHY, termasuk seorang pemuda di antara ribuan orang yang pergi ke Tan’im, di luar kota Makkah. Mereka berbondong-bondong ke sana, dikerahkan para pemimpin Quraisy untuk menyaksikan pelaksanaan hukuman mati terhadap Khubaib bin ‘Ady, yaitu seorang sahabat Nabi yang mereka jatuhi hukuman tanpa alasan.

Dengan semangat muda yang menyala-nyala, Sa’id maju menerobos orang banyak yang berdesak-desakan. Akhirnya dia sampai ke depan, sejajar dengan tempat duduk orang-orang penting, seperti Abu Sufyan bin Harb, Shafwan bin Umayyah dan lain-lain.

Kaum kafir Quraisy sengaja mempertontonkan tawanan mereka dibelenggu. Sementara para wanita, anak anak dan pemuda, menggiring Khubaib ke lapangan maut. Mereka ingin membalas dendam terhadap Nabi Muhammad saw., serta melampiaskan sakit hati atas ke kalahan mereka dalam perang Badar.

Ketika tawanan yang mereka giring sampai ke tiang salib yang telah disediakan, ‘Sa’id mendongakkan kepala melihat kepada Khubaib bin ‘Ady. ‘Said mendengar suara Khubaib berkata dengan mantap, “Jika kalian bolehkan, saya ingin shalat dua raka’at sebelum saya kalian bunuh....”

Kemudian Sa’id melihat Khubaib menghadap ke kiblat (Ka’bah). Dia shalat dua raka’at. Alangkah bagus dan sempurna shalatnya itu. Sesudah shalat, Khubaib menghadap kepada para pemimpin Quraisy seraya berkata, “Demi Allah! Seandainya kalian tidak akan menuduhku melama-lamakan shalat untuk mengulur ngulur waktu karena takut mati, niscaya saya akan shalat lebih banyak lagi.” Mendengar ucapan Khubaib tersebut, Sa’id melihat para pemimpin Quraisy naik darah, bagaikan hendak mencencang-cencang tubuh Khubaib hidup hidup.

Kata mereka, “Sukakah engkau si Muhammad menggantikan engkau, kemudian engkau kami bebaskan?”

“Saya tidak ingin bersenang-senang dengan isteri dan anak-anak saya, sementara Muhammad tertusuk duri....,” jawab Khubaib mantap.

“Bunuh dia...! Bunuh dia...!” teriak orang banyak.

Sa’id melihat Khubaib telah dipakukan ke tiang salib. Dia mengarahkan pandangannya ke langit sambil mendo’a, “Ya, Allah! Hitunglah jumlah mereka! Hancur kanlah mereka semua. Jangan disisakan seorang jua pun!”

Tidak lama kemudian Khubaib menghembuskan nafasnya yang terakhi di tiang salib. Sekujur tubuhnya penuh dengan luka-luka karena tebasan pedang dan tikaman tombak yang tak terbilang jumlahnya.

Kaum kafir Quraisy kembali ke Makkah biasa-biasa saja. Seolah-olah mereka telah melupakan peristiwa maut yang merenggut nyawa Khubaib dengan sadis. Tetapi Sa’id bin ‘Amir Al Jumahy yang baru meningkat usia remaja tidak dapat melupakan Khubaib walau agak sedetikpun. Sehingga dia bermimpi melihat Khubaib menjelma di hadapannya. Dia seakan-akan melihat Khubaib shalat dua raka’at dengan khusyu’ dan tenang di bawah tiang salib. Seperti terdengar olehnya rintihan suara Khubaib mendo ‘akan kaum kafir Quraisy. Karena itu Sa’id ketakutan kalau-kalau Allah swt. segera mengabulkan do’a Khubaib, sehingga petir dan halilintar menyambar kaum Quraisy.

Keberanian dan ketabahan Khubaib menghadapi maut mengajarkan pada Sa’id beberapa hal yang belum pernah diketahuinya selama ini.

Pertama, hidup yang sesungguhnya ialah hidup berakidah (beriman); kemudian berjuang mempertahankan ‘akidah itu sampai mati.

Kedua, iman yang telah terhunjam dalam di hati seorang dapat menimbulkan hal-hal yang ajaib dan luar biasa.

Ketiga, orang yang paling dicintai Khubaib ialah sahabatnya, yaitu seorang Nabi yang dikukuhkan dari langit.

Sejak itu Allah swt. membukakan hati Sa’id bin ‘Amir untuk menganut agama Islam. Kemudian dia berpidato di hadapan khalayak ramai, menyatakan: alangkah bodohnya orang Quraisy menyembah berhala. Karena itu dia tidak mau terlibat dalam kebodohan itu. Lalu dibuangnya berhala-hala yang dipujanya selamaini. Kemudian diumumkannya bahwa mulai sa ‘at itu dia masuk Islam.

Tuesday, January 5, 2010

Ukhuwwah itu pahit 2



ketika kubaca firmanNya, “sungguh tiap mukmin bersaudara”
aku tahu, ukhuwah tak perlu diperjuangkan
tak perlu, karena ia hanyalah akibat dari iman

aku ingat pertemuan pertama kita, ukhti sayang
dalam dua detik, dua detik saja
aku telah merasakan perkenalan, bahkan kesepakatan
itulah ruh-ruh kita yang saling sapa, berpeluk mesra
dengan iman yang menyala, mereka telah muafakat
meski lisan belum saling sebut nama, dan tangan belum berjabat

ya, kubaca lagi firmanNya, “sungguh tiap mukmin bersaudara”
aku makin tahu, persaudaraan tak perlu diperjuangkan

karena saat ikatan melemah, saat keakraban kita merapuh
saat salam terasa menyakitkan, saat kebersamaan serasa siksaan
saat pemberian bagai bara api, dan saat kebaikan justru melukai
aku tahu, yang rombeng bukanlah ukhuwah kita
hanya iman-iman kita yang sedang sakit, atau menjerit
mungkin dua-duanya, mungkin kau saja
tentu terlebih sering, imankulah yang compang-camping

kubaca firman persaudaraan itu, ukhti sayang
dan aku makin tahu,mengapa di kala lain diancamkan;
“para kekasih pada hari itu, sebagian menjadi musuh sebagian yang lain..
kecuali orang-orang yang bertaqwa”

Salim A Fillah

Ukhuwwah itu pahit. Ye ke??


“Dalam nak bina ukhuwwah, jangan demand. Jangan letak expectation yang tinggi pada sahabat kita. Kita kena ingat, bukan kita sahaja yang perlukan pertolongan, tapi sahabat kita pun perlukan pertolongan juga.”[Murobbiku, 1 Jan 2010]

Aku terkesan dengan kata-kata murobbiku. Sebab tu la aku rasa ukhuwwah tu pahit. Kalau terserempak dengan dia, aku rasa nak lari. Kalau boleh, aku dah tak nak kisah tentang dia. Aku berusaha untuk dia, aku berkeras nak bantu dia. Tapi dia anggap aku susahkan dia, aku ni menjatuhkan maruah dia. Aku yang rasa down, bilamana aku tau aku disisihkan dari kumpulan.

Benda lama yang disimpan, lama-lama jadi busuk. Lama terkepam, lama-lama jadi keras membatu dalam hati sampai jadi hijab atau bahasa kasarnya, Tembok Gaza dalam hati.Tapi bukan Yahudi punya kerja, nafsu, ego dan syaitan punya kerja, sebab dilayan sangat perasaan. Nampak dekat secara fizikal, tapi terlalu jauh di hati. Hanya pandangan dan lirikan sahaja berbalas, tiada kata atau ucapan salam sekalipun. Bukan aku tak cuba, tapi aku dah berputus asa sebab tak di layan sangat. Nak ikut jahat aku, ‘Lantak pi la..’ Nak menyimpan perasaan buat apa, baik simpan duit sampai jadi kaya, boleh derma Palestin.

Aku terlupa, aku perlu sabar. Aku terlalu letak expectation yang tinggi pada dia. Dia tengah susah. Aku tahu dia struggle nak bersihkan hati dia. Aku rasa, sebab aku sendiri pun struggle. Aku kecik hati, dia pun terasa hati. Punca ‘[Aku la yang salah]dan personal life issues’.

Dalam tarbiyah, setahu aku, tak de istilah personal life. Aku amalkan, setiap apa yang berlaku dalam hidup aku, terutama hal-hal berkaitan tentang masa depan Islam, aku akan berkongsi dengan murobbi. Terlalu agresif sampai tak berhati-hati, akhirnya aku terbabas [orang lain selain murobbi sampai boleh tahu]..padahnya, berbalik pada aku. Sesungguhnya aku belajar berulang-ulang lagi. Kenapa jadi untuk kali yang keduanya lagi? Ada yang Allah nak tunjuk pada aku. Pada dia juga…Mungkin Allah nak tingkatkan diri dia.

Yang baik datang dari Allah, dan yang buruk berpunca dari kelemahan aku sendiri. Aku kena redha bila jadi macam ini. Aku la yang kena tanggung akibatnya. Satu proses untuk aku belajar. Walaupun aku sangat kecewa dan sangat down.Sampai aku tak rela nak keluar dari bilik sendiri, aku tak layan telefon, aku nangis... Ada beza ke kecewa dengan diri sendiri dan kecewa sebab orang lain? Mana yang lebih teruk agak-agak? Dua-dua makan hati.

Kalau nak diikut apa yang aku belajar ‘input variables’ dalam subjek Process Control adalah apa-apa yang akan memberi kesan ke atas system. Dari situ, kita akan cari ‘manipulated variables’ untuk kawal ‘control variables’ supaya kita dapat desire output yang kita nak. Dalam situasi aku, aku bayangkan, control variables adalah iman aku, iman keluarga aku, iman kawan-kawan aku, dan iman ummat Islam. Aku nak jaga iman, jadi aku kena diproses. Dalam rangka aku kena proses, aku kena tahu apa yang membuat iman rosak, jadi aku boleh manipulated unsur-unsur yang membuat iman rosak. Aku tak reti macam mana nak manipulate, sebab tu aku kena rujuk sifu-sifu yang pakar untuk bantu aku control keimanan aku dan orang-orang yang aku sayang. Konsep nak jaga mulut pun macam ni juga.

Pertama kali aku kenal cara hidup Islam waktu tahun 2 under grad,member kamceng yang beritahu kepada aku tentang ketelusan dalam hidup dalam berjemaah.

‘Era, ko x boleh simpan-simpan apa-apa yang bersangkutan dengan iman kau dari jemaah. Ko kena setel dan proses cepat-cepat. Kita kena telus. Sekarang bukan masa kita untuk ‘dibelai dan dimanja’, ko yang kena ‘membelai’ adik-adik pulak. Spill out everything pada naqibah ko, tak de personal issues dalam tarbiyah ni. Kita kena tingkatkan diri kita. Jadi open hati kita untuk dibedah siasat.’ [Dija,2006]

Prinsip aku yang nak berubah dan jadi ejen perubah. Aku silap dengan letakkan semua orang macam aku. Aku manusia biasa, aku terlupa. Setiap orang ada experience hidup yang berbeza-beza. Jadi bermacam-macam level kefahaman akan wujud. Tu sebab aku tak hikmah dalam nak dekat dengan kawan-kawan. Aku sedang belajar. Maafkan aku. Aku tak tahu, aku sedang berusaha menuntut ilmu-ilmu mendekati manusia sekarang.

Serius aku kata, tak banyak teori yang aku belajar sebelum ini, sebab tu aku tersasar bila beramal. Aku belajar dari kesalahan aku sahaja. Pengalaman aku yang banyak beri pengajaran. Ikut rasa, memang nak stop. Penat buat salah. Dah rasa sebal sebab kena cop macam-macam. Dah cukup pedih kena sisih. Malu kepada diri sendiri jadi tidak terhitung bilangannya. Tapi tak boleh stop. Sebab aku nak jadi orang yang dapat minum air telaga Kauthar dekat akhirat kelak. Jadi aku tak boleh give up. Dengan dia pun aku tak boleh give up. Bukan dia sahaja, bahkan keluarga, dan juga kawan-kawan yang lain. Aku nak ke Syurga. Aku tak nak neraka, jadi inilah shortcut untuk aku ke sana. Menyebarkan kefahaman Islam. Tanamkan Tauhid dalam hati setiap orang. Allah kata, pahala syahid bagi orang yang tegakkan kalimah Tauhid.

Dalam berukhuwwah pun aku kena telan rasa pahit yang cuma sekejap ini.

“Saya rasa saya dah tak nak kisah lagi boleh x? saya penat..” [Si sengal, 31 Disember 2009]. Ni la dia kaki report mengadu.

‘Jangan demand banyak dengan sahabat kita walaupun kita tahu itu hak kita. Kita cukupkan hak orang lain, tapi jangan harap orang lain cukupkan hak kita. Kalau sahabat kita buat salah, maafkan dia. Imam Syafi’e ada berkata, tiada Muslim yang tak pernah buat salah, tiada Muslim yang tak lepas dari dosa.’ [Murobbiku, 1 Jan 2010]

Lepas beberapa jam dengar penyampaian ni, aku menangis[dah segan dah nangis depan-depan waktu program lagi dah]. Padan muka aku. Jazakillah kepada murobbiku. Terima kasih sebab ingatkan balik pasal benda ni. Aku memang dah lupa lagi-lagi tentang part yang ni. Betapa teruknya aku jadi sahabat. Patutlah dia tak suka. Hakikat manusia sentiasa buat silap. Tu lah sebab kadang-kadang rasa pahit dalam berukhuwwah.

Allah Maha Pengampun dan menerima taubat, jadi aku sebagai hambaNya, kenapa nak rasa tak nak maafkan orang. Kenapa ada rasa tak nak hiraukan dia. Sepatutnya aku bertoleransi dengan dia. Bagi je la apa yang dia nak, [walaupun tak patut nak memilih dalam tarbiyah ni] asalkan tarbiyah berjalan. Bukan untuk diri aku dan dia sahaja, tapi untuk semua. Dia tak dapat ubah, biar aku yang ubah. Sebab hanya aku sahaja yang boleh kawal diri aku.

Betul kata adik aku. Tarbiyah itu ajaib. Yang kita Nampak hanya keindahan dalam tarbiyah, betapa tak sukanya kita pada seseorang tu, tarbiyah jugalah yang bersihkan. Aku bersyukur sebab aku dapat rasa ni’mat tarbiyah. Hatiku aku sudah terikat dengan tarbiyah walaupun aku susah nak teruskannya. Dalam nak pilih teman hidup pun suatu ketika dulu pun, aku menangkan tarbiyah walaupun aku rasa berat hati sebab terpaksa lepaskan ‘orang tu’. [huhuhu..] Memang aku sanggup dan tegar. Aku yakin, Allah suka aku pilih tarbiyah. Biar Allah yang bagi ganjaran untuk aku. Dalam konsep ukhuwwah ni, tarbiyah yang jernihkan kembali perasaan aku terhadap dia yang aku sebut pada awal-awal tadi. Boleh jadi apa yang aku suka tu tak baik bagi aku, itu yang ada dalam Al-Quran.

Kenapa aku sibuk-sibuk? Sebab aku sayang dia. Sayang dia kerana Allah, sayang memperelokkan taqwa aku kepada Allah. Dengan dia, aku dapat tingkatkan capabilities aku. Hidup aku dekat dunia tak panjang, darah aku masih lagi tak berharga untuk dititiskan. Hanya penat keringat je yang mampu aku beri.

“ Ya Allah, berikan ikhlas dalam hati aku. Diffusekan sifat sabar dalam jiwa aku, tanamkan cekal dalam semangat aku. Semua untukMu Ya Allah, segala yang aku lakukan adalah demiMu.”[Si sengal, 4 Jan 2010]

Kepada dia, aku maafkan dia, aku minta maaf dari dia atas ketidakperihatinan aku terhadap perasaannya.

“Banyak kali kan aku buat macam ni dekat kau?”

“Aku takde niat nak memburukkan, tapi lebih kepada simpati.Aku nak rasai apa yang kau rasa. Aku minta orang lain doa untuk kau juga. Semoga dekat akhirat nanti antara aku dank au tak jadi orang yang saling menyalahkan antara satu sama lain.”

p/s: Aku tak tau la dia boikot juga ke tidak blog aku ni.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...